Guest Avatar
   
 
Rendah Kadar Folat Perempuan di Asia
by rani_oksbangget on 25 September 2007

MUNGKIN Anda pernah melihat atau mendengar bayi yang lahir dengan kondisi otak atau sumsum tulang belakangnya tidak tumbuh sempurna. Kecacatan juga bisa timbul di area kepala, misalnya timbul celah atau semacam tonjolan (hernia) di tulang tengkorak yang disebut ensefalosel.

Selain itu, bisa juga bayi lahir tanpa tempurung kepala dan otak (anensefali). Jenis kecacatan ini dapat dilihat pada usia kehamilan 17 minggu. Angka kasusnya berkisar 1 di antara 1.000 kehamilan.

Bayi-bayi yang lahir seperti itu adalah penderita neural tube defects (NTDs). Bayi-bayi penderita NTDs tersebut disebabkan kekurangan folat ketika di dalam kandungan. NTDs disebabkan oleh kegagalan menutup tabung saraf dengan sempurna pada hari ke-28 setelah konsepsi.

Hasil studi sejumlah peneliti dari Asia yang dipublikasikan dalam Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition 2007 menunjukkan sekitar 15 dari 10 ribu kelahiran di Asia berisiko NTDs.

Dalam studi tersebut kadar folat dalam sel darah merah 700 perempuan berusia 18-40 tahun di Jakarta, Beijing, dan Kuala Lumpur diuji. Setelah itu dianalisis untuk memperoleh prediksi tingkat NTDs.

Pimpinan studi dari University of Otago New Zealand dr Tim Green mengatakan hasil studi tersebut menunjukkan, di Jakarta, tiga dari lima atau sekitar 60% perempuan usia produktif memiliki kadar folat sel darah merah yang kurang dari ideal.

"Hasil studi menunjukkan sekitar 15 dari 10 ribu kelahiran di Asia berisiko NTDs. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angka di negara-negara maju, seperti Amerika Utara yang memiliki tingkat NTDs hanya sebesar 5 dari 10 ribu kelahiran," ujar dr Green dalam media edukasi tentang hasil studi folat di Jakarta, pekan lalu.

Sementara perempuan di Beijing, lanjutnya, menempati urutan tertinggi dengan kadar folat tidak sehat. Hanya 12% dari perempuan yang diuji memiliki kadar folat sehat. Hal itu mengacu pada prediksi NTDs tertinggi di antara negara-negara yang mengikuti uji klinis, yaitu sekitar 30 dari 10 ribu kelahiran.

Hal serupa juga ditemukan di Kuala Lumpur. Hanya 15% perempuan yang memiliki kadar folat sehat, dan tingkat NTDs diprediksi 24 dari 10 ribu kelahiran. Sedangkan perempuan di Jakarta, meskipun tidak disebutkan secara pasti mengenai jumlah yang berisiko NTDs, bisa dikatakan para perempuannya yang berisiko NTDs tidak sebesar di Beijing dan Kuala Lumpur.

Fortifikasi folat

Terkait dengan hasil studi tersebut, di tempat yang sama Wakil direktur untuk pengembangan program dan konsultasi dari SEAMEO TROPMED RCCN Universitas Indonesia Siti Muslimatun menjelaskan perbedaan kadar folat yang dimiliki perempuan di Jakarta dengan perempuan di Kuala Lumpur dan Beijing disebabkan karena perbedaan konsumsi makanan yang kaya dengan kandungan folat.

"Program fortifikasi yang diwajibkan di Indonesia dan diperkenalkan pada 2001 bertujuan untuk memfortifikasi gandum dalam negeri dan impor dengan asam folat, menggambarkan status folat yang lebih tinggi di kalangan perempuan Indonesia dibanding dengan para perempuan di China dan Malaysia," jelas Siti di Jakarta, pekan lalu.

Program fortifikasi itu tidak ada di China dan Malaysia. Namun memang kadar folat pada perempuan Indonesia masih berada di bawah kadar optimal.

Berdasarkan hasil studi tersebut, dr Noroyono Wobowo SpOG(K) dari Divisi Fetomaternal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menambahkan risiko NTDs disebabkan karena perempuan-perempuan usia produktif tersebut kurang mengonsumsi makanan yang diperkaya dengan asam folat.

"Konsumsi asam folat dapat mengurangi risiko NTDs telah terbukti dari beberapa studi internasional terdahulu bahwa konsumsi asam folat oleh perempuan usia produktif dapat secara signifikan mengurangi terjadinya NTDs," kata dr Noroyono.

Lebih lanjut, dr Noroyono menjelaskan kehamilan adalah masa pembelahan sel serta pertumbuhan yang cepat dan folat berperan penting dalam menurunkan risiko NTDs dengan cara mempermudah produksi DNA dan RNA, sebagai bahan dasar sel.

Asam folat, tambahnya, dapat diperoleh dari makanan, seperti susu dan sayuran hijau. Namun asam folat ini akan bekerja lebih baik jika dibarengi dengan vitamin B12 dan vitamin tersebut dapat diperoleh dari daging.

Untuk itu sangatlah penting untuk mengedukasi para perempuan yang berencana untuk memiliki anak mengenai pentingnya peningkatan kesehatan nutrisi mereka serta memberikan makanan-makanan yang kaya folat agar si ibu dapat memberikan awal kehidupan terbaik kepada bayi mereka, terutama sejak awal kehamilan.

Dokter Green menambahkan, pendekatan yang dapat dilakukan perempuan usia produktif untuk memperkecil risiko kehamilan yang terkena NTDs adalah dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang diperkaya dengan asam folat.

"Hasil studi tersebut di atas memberikan dasar bagi analisa lebih lanjut mengenai masalah ini dan semoga dapat mendorong pemerintah dan seluruh rumah sakit untuk segera bertindak dalam meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya konsumsi makanan yang kaya folat, terutama ketika merencanakan kehamilan," imbuh dosen senior di University of Otago New Zealand itu.

Sumber : mediaindonesia.com
 
Home Wanita
Mode & Fashion
Dunia Wanita
Beauty
Sedap Lezat
Tips n Pernik